ARTIKEL
Sesuatu Yang Lebih Disukai Belum Tentu Yang Terbaik
Selasa, 28 Januari 2020

Sesuatu yang Lebih Disukai
Belum Tentu yang Terbaik

Hari ini cuaca sangat cerah. Aku dan Sofie bermain di kaki bukit, menikmati indahnya pemandangan. Tidak bosan rasanya berada di tempat seindah dan sehijau ini. Jika aku mau bergulingan kesana-kesini tidak akan ada yang menjadi marah, jika aku mau berteriak sekeras-kerasnya tidak akan ada yang merasa terganggu, jika aku mau melompat setinggi-tingginya tidak akan ada yang melihat dengan pandangan aneh, jika aku mau berlari sekencang-kencangnya tidak akan ada yang mau peduli. Tapi tentu saja aku tidak melakukan semuanya itu. Aku hanya ingin menunjukkan kalau tempat ini memang sangat luas. Kami menikmati kue-kue yang ada, kue jajanan pasar. Sofie yang membawanya. Sangat nikmat. “Sofie dengarkan yah, aku mau membacakan puisi,” kataku. Sofie memperhatikanku dengan wajahnya yang ceria. Dia tersenyum sangat manis. Sambil memegang kertas bertuliskan puisi aku mulai bergaya membacanya dengan penuh penghayatan: Bila cinta bertamu dalam hatimu Mampukah kau usir ia dari jamuanmu Kelembutannya merantai rasa cintamu Kebaikannya meramaikan kesendirianmu Suaranya merdu merayu kebahagiaanmu Sofie memuji diriku, dia kelihatan sangat senang. “Wuaah, bagus sekali, boleh aku minta salinannya?” “Ambillah. Puisi ini memang sengaja kubuatkan untukmu.” “Terima kasih, Farhan! Kau baik sekali.” Aku memberikan kertas puisiku pada Sofie. Dia menerimanya dengan gembira, membacanya berulang-ulang. Aku tersenyum memperhatikan tingkah Sofie, seperti anak kecil saja. Entah mengapa tiba-tiba saja langit menjadi mendung disertai hujan gerimis. Sesekali terdengar suara halilintar menggelegar seolah ingin menakut-nakuti penghuni bumi. “Ayo cepat kita bereskan, sebentar lagi hujan deras!” teriakku. Dengan panik kami membereskan tikar dan kue-kue yang masih tersisa. Sambil menjerit-jerit seru kami berlarian mencari perlindungan di bawah sebatang pohon besar. Lumayan, daunnya yang lebat cukup untuk melindungi kami dari air hujan. Tapi aku dan Sofie sudah basah kuyup. Hujan telah menjadi deras sebelum kami Cintaku lebih bulat daripada bulan Diusung dalam arakan pasukan awan Rinduku membakar lebih panas dari teriknya matahari siang Aku ingin bertemu, walau hanya dengan bayang-bayang Seandainya lidahku akan berbicara maka jiwamu yang kupilih Seandainya telingaku boleh mendengar maka suaramu yang kupilih Seandainya mataku dapat melihat maka hatimu yang kupilih Penaku mengabadikan namamu Menerjemahkan sayang dalam hatiku Melukiskan rindu untuk kehadiranmu Mengurangi duka dalam kesunyianku sempat berlindung. Angin pun berembus sangat kencang, aku dan Sofie menggigil. Kami saling menatap, seolah-olah bertanya mengapa cuaca yang tadi cerah mendadak menjadi hujan deras. Tentu saja kami tidak tahu jawabannya, tapi melihat kami berdua telah basah kuyup dan kedinginan, kami tertawa. Suasananya sangat romantis, bahkan terlalu romantis, seperti layaknya di film-film. Aku bergeser sedikit agak menjauh dari Sofie, berusaha untuk tetap menjaga diri. Tiba-tiba aku teringat pada niatku untuk melamarnya, rasanya ini adalah saat yang tepat untuk menanyakan hal itu kembali. “Sofie, kemarin ini kau belum menjawab pertanyaanku. Insya Allah aku sungguh-sungguh berniat melamarmu.” Sofie tidak menjawab pertanyaanku, tawanya perlahan terhenti, kini dia hanya terdiam. Aku mencoba menebak maksudnya, “Rasulullah Saw. bersabda: diamnya wanita pada saat dilamar berarti menyetujuinya,” kataku sambil tersenyum. Sofie tetap diam, malah berubah murung. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Suasana menjadi sangat sepi, hanya terdengar suara air hujan yang deras turun membasahi bumi dengan sesekali disertai suara halilintar menggema.
“Sofie, ada apa?”
“Entahlah Farhan, aku tidak tahu.”
“Apakah kau tidak suka kalau aku melamarmu?”
“Farhan… bukan begitu, aku sendiri pun tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu. Orang tuaku memang tidak melarang hubungan kita, tetapi mereka juga tidak mengiyakan. Kemarin mereka berkata padaku, mereka khawatir aku tidak bahagia bila hidup bersamamu.” Mendengar kata-kata Sofie, kepalaku rasanya pusing seolah tertimpa sebatang pohon besar. Tapi aku tetap berusaha tegar. “Sofie, tenangkan hatimu. Sekarang coba kau ceritakan padaku dengan perlahan.” Sofie menarik nafas dalam untuk menenangkan hatinya. Sama seperti diriku, dia berusaha tetap tenang. “Farhan, orang tuaku beralasan engkau adalah yatim piatu, sedangkan aku berasal dari keluarga kaya. Hal itu cukup memberatkan hati mereka. Mereka memintaku untuk mempertimbangkan kembali hubungan kita.”
“Lalu bagaimana menurutmu?”
“Aku bingung….”
Air mata meleleh dari kedua matanya. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Tapi Sofie berusaha sebisa mungkin untuk tetap tegar. Dia tidak mau terlihat cengeng di depanku. Aku sangat memahami sifatnya.
“Bagaimana seandainya aku melamarmu? Apakah mereka sudah pasti menolaknya?” Sofie mengangkat bahunya, dia tidak tahu. Kepalanya tertunduk, merasa bersalah. Kini, selain aku harus berusaha menenangkan hatiku, aku pun coba menenangkan hatinya. “Sofie, aku memahami keadaanmu. Aku adalah temanmu sejak kecil, persahabatan kita sangat erat, bahkan sudah seperti saudara kandung. Orang tuamu benar, aku adalah yatim piatu. Aku sangat tahu bagaimana kehilangan cinta seorang ayah, dan aku sangat tahu bagaimana kehilangan kasih sayang seorang ibu. Tentu kau masih ingat, Hafshah tidak pernah tersenyum selama satu tahun hanya karena ditinggal pergi oleh ibu yang sangat dikasihinya. Sofie, jangan sampai engkau salah dalam mengambil keputusan. Aku tahu dengan pasti, sosok seorang ayah dan ibu sangat berarti dalam kehidupan setiap orang, begitu juga dengan dirimu. Ayah dan ibumu pasti sangat berarti dalam kehidupanmu. Aku berharap, jangan sampai engkau membuat mereka kecewa. Almarhum ayahku pernah berpesan padaku, Rasulullah Saw. bersabda, bahwa rida Allah bergantung dari rida orang tua dan murka Allah bergantung dari murka orang tua. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, cobalah kau renungkan kembali pesan mereka.”
“Tapi aku masih bingung….”
“Yang lebih disukai belum tentu yang terbaik. Kalau Allah
menghendaki kita bersama maka pasti ada jalannya aku dapat
melamarmu, tapi seandainya Allah menghendaki lain maka itulah yang
terbaik yang diberikan-Nya untuk kita. Boleh jadi kamu membenci
sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui
sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 216)
Sofie hanya terdiam, mengarahkan pandangannya ke langit. Hujan yang turun seolah ingin memberitahu kami kalau langit pun ikut merasakan kesedihan hatinya. “Jadi bagaimana sekarang?” tanyanya. “Menurutku lebih baik kita bersahabat saja. Aku rasa itu yang terbaik untuk kita, setidaknya untuk saat ini.” Sofie menghela nafas panjang. Memang tidak ada pilihan lain bagi kami selain menjadi sahabat kembali seperti dulu. Sofie pun menyadari hal ini. Dengan lemah dia menganggukkan kepalanya. Kami sama-sama terdiam, keputusan ini terasa sangat berat, tetapi tetap yang terbaik. Aku tidak tahu harus bicara apa, sampai kemudian Sofie yang memulai pembicaraan. “Kuenya masih bisa dimakan tidak? Ayo habiskan, jangan khawatir ini aku beli dengan uangku sendiri.” Aku tersenyum, Sofie kembali menggodaku. Memang begitulah sifatnya yang mudah ceria. Aku sangat bersyukur. “Sampai kapan kau akan meledekku seperti itu? Kalau begini terus besok-besok biar aku saja yang bawa kue.” Sofie tertawa mendengar jawabanku, aku pun ikut tertawa. Alhamdulillah, suasana yang tadinya sunyi menjadi ramai kembali. Setidaknya kami bisa melupakan kesedihan yang ada di dalam hati, walaupun hanya sementara.
Malam harinya aku duduk termenung di kamarku. Hatiku terasa berat, kesedihan menyelimuti. Tadi siang aku memang mampu bersikap tabah, bisa menenangkan perasaanku, tapi malam ini sangat berbeda, aku merasa angat kesepian. Seandainya masih ada ibuku, pasti beliau dapat menenangkan hatiku, memberikan nasehat yang baik padaku. Aku memaksakan diri bertahan, sangat terasa memang luka di hati. Tanpa terasa aku menundukkan kepala, air mata terasa hangat membasahi pipiku. Setelah kepergian ibu, belum pernah aku merasakan kesedihan yang begitu dalam seperti sekarang ini. “Ini adalah yang terbaik, ini adalah yang terbaik, ini selalu yang terbaik.” Aku mengucapkan kalimat itu dalam hatiku berulang-ulang. Di tengah kegembiraanku mendapatkan pekerjaan, ternyata cobaan pun datang mengujiku. Tapi aku tidak boleh mendramatisir keadaan. Biarlah aku belajar memahami isi hatiku sendiri, aku tidak mau merengek di depan orang lain, mencari belas kasihan dari orang lain, aku harus tegar seperti yang telah dicontohkan oleh almarhum ayah dan ibu selama hidup mereka. Kalaupun aku harus menangis, biarlah aku menangis seorang diri dan hanya Allah yang melihatku. Semua hariku indah setelah aku mengenalmu Seolah kebahagiaan surga sudah aku temukan di dunia Sungguh, yang kutakutkan adalah berpisah denganmu Tapi bila jodoh tidak di tangan apa lagi yang diharapkan Haruskah aku melupakanmu Padahal aku terlalu dalam mencintaimu Haruskah aku meninggalkanmu Padahal cintaku sudah kutitipkan di ujung hatimu Ya Allah, jauhkan aku dari cinta yang merusak pikiran Dari cinta yang merusak pikiran, dari cinta yang merusak pikiran Selamatkan aku dari nafsu yang mematikan jiwa Dan lindungi aku dari kebodohan yang melemahkan
Akhlak Hidup ini tidak akan berakhir jika cinta ditolak Hidup ini tidak akan usai jika cinta diputus Memang berat untuk menanggung patahnya hati Tetapi waktu pasti menyembuhkan luka hatiku Ya Allah, jangan sampai cinta ini merusak pikiranku, mematikan jiwaku, melemahkan akhlak-ku. Cinta kepada-Mu haruslah menjadi segala-galanya bagiku. Engkau-lah yang telah memberikan karunia cinta ini kepada kami, dan Engkau jugalah yang telah membuat ini terjadi. Ya Allah, aku berharap pada pertolongan-Mu, aku berpayung pada perlindungan-Mu, dan aku berpegang pada pemeliharaan-Mu. Malam semakin larut, aku melihat jam, sudah pukul sepuluh malam. Aku melakukan shalat Malam, lalu membaca al-Quran, berharap dapat menenangkan hatiku. Aku bertekad, Ya Allah, aku tidak boleh jatuh dalam cobaan ini.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)
mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum
mereka maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang
benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
(Q.S. al-’Ankab-ut [29]: 2-3) Rasulullah Saw. bersabda:
“Hikayat dari Allah Ta’ala: Aku bersama hamba-Ku, apabila ia
menyebut nama-Ku dan kedua bibirnya bergerak (menyebut nama-
Ku).” (H.R. al-Bukhari dan Ibnu Majah)

KOMENTAR



Share

KOTAK BERBAGI

5 ARTIKEL TERBARU
PENERIMAAN SISWA BARU T.P. 2011 / 2012...

SMA AL-ASIYAH MENERIMA SISWA BARU T.P. 2011 / 2012

PENDAFTARAN DIMULAI PADA BULAN APRIL 2011

Sekretariat Pendaftaran :

 Jln. Raya Jakarta - ....Selengkapnya

Pembuat Gentong & Penjual Daging
Sesuatu Yang Lebih Disukai Belum Tentu Yang Terbaik
Guru Teladan Dari Bogor
Prestasi siswa

5 ARTIKEL TERPOPULER
Prestasi siswa ...

pemakaian/penggunaan, pengamatan dan pembuatan ,semua lengkap ada disini.Siswa nantinya akan dapat menciptakan produk sendiri berupa software baik berupa Website ataupun Software Application berbas....Selengkapnya

Guru Teladan Dari Bogor
PENERIMAAN SISWA BARU T.P. 2011 / 2012
Sesuatu Yang Lebih Disukai Belum Tentu Yang Terbaik
Pembuat Gentong & Penjual Daging